Indah Berkat BisikanNya
Indah Berkat BisikanNya
Aneh, kalau orang melihat tikus, langsung ia diburu sebagai musuh, perusak, pencuri, hama.
Tetapi mengapa di tangan, di mata Walt Disney, tikus menjadi tokoh Mickey Mouse yang begitu
manusiawi, disukai, digemari dan menjadi teman, di seluruh dunia?
Betul, kata pak Arif. Mata kita, atau mata seorang tukang kebun, petani, juga melihat rerumputan,
ilalang, sebagai noda di taman, di jalan, pengganggu di sawah, di kebun sayur, yang dibenci,
dibasmi, dibakar orang, atau sekedar sesuatu yang tak berharga.
Tetapi kalau orang berlama-lama memandangnya, Yang Kuasa “mencelikkan” matanya, “menyembuhkan” kepekakan, ketumpulan, kedunguan, kesombongannya. Lalu tampak olehnya tanaman indah dengan tangkai berikut daun-daun, bunga-bunganya serta lekuk-lekukan dan bentuk artistik. Dengan siput, “bagai perahu layar, atau kereta salju yang melaju di atas daunnya” si upik menyela; dengan kumbang, “bagai batu permata yang hinggap di atas daun bunganya” si upik lagi-lagi menimpali; dengan kupu-kupu, capung “atau burung-burung purba”; dengan kadal, “atau komodo” serunya.
Ia merasa sejuknya angin yang berembus, mendengar bunyi “tek-kuk-kuuurr-kuk” sayup-sayup jauh diatas
pohon bagai mendengar seorang sedang menembang. Mata, telinganya terpesona memandang, mendengar,
lalu melukis. Hasilnya sebuah firdaus, bukan rerumputan.
Hujan tidak lagi terlihat sebagai sekedar penyebab banjir, kebecekan, kebocoran, kemacetan lalulintas, melainkan sebagai sesuatu yang dengan ajaib turun begitu saja dari “surga” bagaikan berkat,
bagi tanaman dan umat yang hidup. Dalam sebuah senyum ia melihat merekahnya sekuntum bunga.
Kalau ada tulisan, lukisan, nyanyian, film, sandiwara indah, maupun suatu perbuatan yang baik
hingga amat menyentuh, itu – bagi saya -, tidak lain karena karya, perbuatan tersebut “dibisikkan,
mendapat pencerahan Sang Kuasa”, kalau tidak bagaimana mungkin bisa begitu? Maklum, bukan ahli,
pakar, bukan cendekiawan, tidak tahu bagaimana mengukur, menilai karya seni, perbuatan baik. Begitu kata pak Arif.
Jayakarta, 17 Januari 1997
