Ikut Nyumbang Perayaan HUT Kemerdekaan
Ikut Nyumbang Perayaan HUT Kemerdekaan
Tak tega rasanya untuk membayar ongkos bus, yang sudah terhitung paling murah, kurang dari semestinya, apa lagi kalau sampai cuma-cuma. Betul, niat menyumbang dengan memberi potongan ongkos naik kendaraan umum demi warga kecil pada hari-hari perayaan 50 tahun emas, Indonesia Merdeka tentu amat mulia.
Bagi sopir dan konduktur bus, yang sudah bekerja seharian, sementara orang-orang berpesta, bergembira, tahu-tahu bukan membawa pulang tambahan rezeki untuk bisa menyenangkan keluarga merayakan 17 Agustus, eh, malah pulang membawa “tekor” alias kena “nombokin”. Maklum, orang kaya mana mau menjadi awak kendaraan umum?
“Apa artinya kebaikan, kalau kebaikan itu keluarnya dari kocek orang lain?” si upik tiba-tiba nyeletuk. “Maksudnya?” tanya saya.
“Syukur pemerintah sendiri telah menyumbang dengan menurunkan tarip angkutannya, lalu dengan rela diikuti para pengusaha angkutan besar yang kaya. Hitung-hitung cuma sekali dalam 50 tahun, syukur-syukur kalau bisa sekali setahun. Andaikan sopir, konduktur bus, mikrolet, bemo diminta (disuruh), ikut menyumbang dengan menurunkan tarip, itu sih bukan tidak baik, melainkan kebangetan. Upik mah lebih suka menyumbang dengan membayar lebih, ketimbang disumbang mereka dengan mendapat potongan harga. Hitung-hitung ikut nyumbang dalam perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan, meski begitu kecil, ketimbang sumbangan kembang api dari Perancis.” kata si upik.
Berita Buana, 5 September 1995
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
