Hanya Untuk Tinggal Kenangan?

         Hanya Untuk Tinggal Kenangan?                                           

Wow,  alangkah  agung dan megahnya maha karya  itu.  Burung-burung  bernaung didalamnya.  Kadal,  katak, tokek,  cengkerik  menghuninya.  Entah apa  sepuluh  orang bergandengan tangan dapat mengelilingi  pangkalnya?  Itulah  karya  Sang Waktu yang dengan  sabar  telah membuat  pohon  itu  selama lebih dari  satu  abad. Dengan cemas saya menanti nasibnya di  Jl.  Merdeka  Barat  karena  disitu telah dilakukan  pembongkaran untuk  membangun Gedung Sapta Pesona.  Tidakkah  ia  pantas  dijadikan  pesona kedelapan?  Atau  menghabisinya, untuk hanya tinggal kenangan?                  

Ada  jalan  tanah yang menuju ke  rangkaian  bukit-bukit di Cileungsi.  Truk-truk sarat dengan muatan, entahlah, mungkin bahan untuk membuat semen, diangkut melalui jalan ini. Meski hanya bukit-bukit, bukan  gunung seangker,  sekejam yang dipanjat almar­hum  Norman Edwin dan Didiek Syamsu,  mereka serasa sama menarik, menakjubkan dan menantang bagi pendaki awam.            

Berbekal  semangat dan sedikit keberanian  memasuki jalan setapak yang makin menghilang ditelan tumbuh-tumbuhan. Anda  makin  tenggelam dalam  alang-alang dan  rerumputan  serta sunyi  yang  mencekam.  Hati
 ciut.  Merasakan kebesaran,  keagungan, kedahsyatan alam, membuat orang sembuh dari penyakit kesombong­an.
 Tetapi kalau mengingat “hadiahnya”, berupa perasaan yang  begitu  melegakan, bangga,  bahagia  berhasil menerobos  ”neraka”  itu, upaya  tersebut  tidaklah terasa sia-sia, meskipun harus keluar “babak belur” dengan  baju  penuh benih-benih  rerumputan   serta gatal, baret diseluruh badan.          

Dalam  perjalanan  pulang,  bukit-bukit  itu  terus membayang: “Ah, karena MANFAAT, (baca: bisa dijadikan  duit),  kami akan ditambang habis.” terngiang-ngiang ratap mereka.                                                                         

Cilenggang dekat Bumi Serpong Damai (BSD). Jalannya teduh,  rumah-rumah  penduduknya mungil dan  ramah, tanpa  pagar  pemisah.  Tidak  seperti  rumah-rumah “kodian”  yang membosankan dengan jalan-jalan  yang lurus,  kaku,  atau vila,  rumah  mewah yang besar, tetapi berkesan dingin dan angkuh.  Meski tidak ada taman, dengan menuruni jalan setapak yang diwuwungi hutan bambu, tergelar sebuah taman firdaus.          

Dan bagai Adam, mata terpesona memandang air terjun yang memasuki lembah subur,  perbukitan diseberang, persawahan  dibawah.  Kaki menari,  menuruni  jalan setapak,  mengikuti selokan berliku-liku yang mema­merkan  kekayaan bermacam tumbuh-tumbuhan di  tepi. Telinga  berpesta mendengar ramainya suara air berjatuhan ke kolam ikan dan sawah.  Paru puas menghi­rup udara bersih dan segar,  sedangkan hati terharu bersenandung rasa syukur,  meski ini cuma  di  desa Cilenggang, bukan di pulau Dewata.           

“Nasibnya” telah diputuskan: untuk tinggal  kenangan.                                   

Media Indonesia 10 September 1992

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers