Hadiah 17 Agustus Pak Bandrio


Hadiah 17 Agustus Pak Bandrio

Terbayang,  Sang  Istri  mengenang  manisnya  masa memadu  kasih.  Dirinya  disyairkan,  dinyanyikan,
dirinya membayang jika ia, yang menjadi “Pangeran­nya”  melihat kecemerlangan setetes  embun,  menghirup harum, memandang keindahan bunga. Dirinya di awan, di bulan, bintang, … 
 Kini,  ia yang semula sebagai kekasih,  sepertinya diangkat  menjadi  ratu,  bukan  meningkat,  malah
merosot,  menurun, sebagai istri.  Hatinya  pedih, menangisi  masa  begitu indah  yang  telah  pergi.
Kalau Valentine-nya, eh … suaminya, yang  semula begitu  hangat,  setiap pagi  mengecupnya  bangun,
sampai  mendingin, memunggungi dirinya, atau  baru pulang larut malam, …  
 

Terngiang-ngiang  ikrar, janji-janji  manis  dulu: “Untuk saling mencintai dan hidup sehidup-semati”. 
Namun, siapa, apa, … mana mungkin janji,  ikrar, sumpah,  bisa mencegah, menghalangi  hati  manusia
tidak  berubah? Sekuat-kuat ia  mengingatkan  diri ia  tak  dapat mencegah, membendung, timbulnya sangkaan,  pikiran ¨yang bukan-bukan.
 

Namun, … Lain dari biasanya, kisah kasih  sayang Subandrio  yang  terakhir,  bukan  di  usia  muda,
melainkan  di usia lanjut, tanpa romantik,  bermesra-mesraan.  Emas Kawinnya, berupa ketampanan, kegagahan,  -  rambutnya  menipis,  memutih,  kulitnya berkerut,  giginya  … –  makin  habis,  dimakan,
dikikis  usia.  Walaupun demikian, diantara  sean­tero pria, ia, yang  dalam keadaan dihukum  seumur
hidup dan dikutuk, dibenci banyak orang, dipilih, diangkat olehnya sebagai suami.
 

Subandrio  amat  beruntung, kata  orang.  Mendapat grasi,  ia  selamat dari hukuman  mati,  kini,  ia
bebas  dari  hukuman seumur  hidup  dan  mempunyai istri, bak Savitri, yang berhasil merebut suaminya
dari Yama, Sang Maut. Adakah hadiah, anugrah lebih indah baginya?  Orang balik, mulai berbaik  kemba­li. Hati Sang Istri begitu bersyukur  menyongsong masa  depan yang lebih indah, kalau ia,  Pak  Ban­drio, walau pada usia 81(!)  tahun,  baru  boleh pulang.  Ia  tak dapat  mencegah,  membendung  air matanya berlinang.
                                      

Harian Ekonomi Neraca, 25 Agustus 1995

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers