e mail Seorang Ayah 1
e mail Seorang Ayah 1
Hormat (respek) tidak bisa dipaksakan, bukan suatu keharusan. Apa yang dipaksakan, diharuskan itu bukan hormat.
Anak yang masih tergantung pada orang tua tidak perlu menghormati orang tuanya karena ia toh tidak dapat melawan, mesti tunduk pada orang tua. Orang tualah yang harus menghormati anak-anaknya, keinginan, perasaan, harga diri mereka.
Sebaliknya, jika orang tua sudah lemah, berumur, justru anak-anaknyalah yang sudah dewasa, mandiri harus menghormati mereka. Tidak ada orang tua yang ingin diperlakukan, diperintah-perintah seperti anak kecil, orang pikun. Itu penghinaan, karena mereka tidak bisa melawan. Begitu juga menghormati orang-orang bawahan, orang sinting, cacat, anjing, kucing, burung, tanaman, … sekalipun, Bukan memperlakukan mereka seenak-enaknya mentang-mentang mereka “dibawah” kalian, lebih lemah. Itu baru terhormat.
Menghormati presiden Soeharto, ketika ia masih jaya-jayanya ibarat masih seperti seekor singa, itu gentar, bukan hormat. Menghormatinya ketika beliau diturunkan, dihina, dicaci maki, dibenci, “dikeroyok”, “dibelenggu”, dijatuhkan, mengalami stroke, sudah tidak bisa melawan lagi, itu baru hormat.
Suatu hari kalian juga menjadi tua, mungkin tak berpenghasilan, agak tuli, melihat agak kabur, lemah, sakit-sakitan. Memang, hormat tak dapat dipaksa-, diperintah-kan. Tidak ada orang tua yang waras menuntut anak-anaknya untuk “menghormati” orang tua kalau sudah tua, melainkan menuntut, menghormati kemandirian, kemerdekaan, martabat, harga diri mereka sebagaimana diinginkan setiap makhluk, setiap kehidupan.
Desember 2007