Dongeng Sang Putri Impian
Dongeng Sang Putri Impian
Berduyun-duyun para Pangeran ngantri mau melamar Sang Putri Impian. Mereka keren-keren, cakap-cakap, memamerkan segala keistimewaan, kemewahan, kehebatan mereka dengan segala sopan santun.
Tapi Sang Putri diam-diam menaksir, mencintai si pengangon kerbau yang lugu, polos sebagaimana Adam tanpa pendidikan, gelar, kekayaan, pakaian. Itu, ketika berjumpa dengannya tatkala bertamasya ke sebuah desa. Maklum ia tak terpikat, terkagum-kagum pameran kehebatan, gelar para pangeran.
Tidak secuil pikiran terbesit mengingat keadaannya. Ia tidak memiliki apa-apa untuk memamerkan dirinya agar bisa memikat seorang bidadari seperti yang sedang dihadapinya, selain dirinya sendiri.
Dan … – ini hanya cuma bisa terjadi dalam pewayangan, dalam bayangan, khayalan, pikiran saya – Sang Putri suatu hari kemudian malah datang kembali dan bersabda: “nikahi saya.” Linglung, Sang Penggembala tak menyangka, tak pernah mengharap, bermimpi akan dihadiahi Dewi Surga.
Dan diboyong Sang Dewi itu pulang ke gubuknya, merayakannya dengan makan lalap, ikan asin, pepes oncom. Hangat, empuk tidur di dalam pelukan masing-masing meski cuma di bale-bale butut, senang kerja tiap hari di kebun sayur, mandi di kali atau di sumur. Hatinya menyanyi:
“Dengan kau ku lebih ratu dari ratu.
Apa yang dapat membuatku resah?
Dengan kau, neraka tak membuatku takut.
Selain dengan kau, tak ingin ku masuk surga.”
Desember 2009
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
// BEGIN PARAMETERS
var page_name = ‘#’;
var invisible = ‘#’;
var text_counter = ‘#’;
// END PARAMETERS
wtslog(‘al11554′,’2′,’http’,page_name,invisible,text_counter);
