Dolar Naik? Biarin Aja

 Dolar Naik? Biarin Aja 

Baru untuk mengurusi beberapa mulut anggauta keluarga saja, banyak ibu rumah tangga belum lama ini sudah kelabakan, menyerbu, memborong ramai-ramai di pasar-pasar swalayan.  Bapak presiden, walau pada usia senja, malah begitu tabah, tegar, tetap menyanggupi menyediakan bahan pangan bagi sekitar dua ratus juta jiwa, menyalurkannya sampai ke pelosok-pelosok di seluruh Tanah Air. Itu baru makanan, belum lagi lapangan kerja, sarana pendidikan, keamanan dan seribu satu kebutuhan, keperluan, harapan rakyatnya yang lain. Bukan macam itukah tantangan atau apa yang dituntut dari setiap nakhoda, maupun calon nakhoda negara? 

Warga Korea menyokong pemerintah mereka meski cuma dengan menyumbang satu dolar  saja masing-masing, Konon toko-toko emas Muangthai masing-masing menyumbang satu kg emas kepada pemerintah mereka. Pemain bulutangkis kita rela menyumbangkan uang kontrakan mereka sampai sebesar 50% kepada PBSI. 

Tidak semua orang bertindak demi kepentingan, keuntungan diri sendiri. Banyak juga yang peduli akan kesulitan sesamanya. Ingat saja orang-orang yang rela berkorban dengan mengurangi gaji mereka. Saya kebetulan tahu, kalau ada pasien yang diam-diam bahkan menaikkan honor dokternya ketika berobat dan menolak kelebihan itu dikembalikan kepadanya. 

Dan saya pun melamun membayangkan kalau saya menjadi orang baik macam itu. Dolar naik? Biarin aja, dunia engga kiamat kok. Buat apa ngejar-ngejar, memuja-muja dolar. bagaikan pacar yang jual mahal. Biarin barang luar negeri menjadi mahal gara-gara kenaikan dolar. Rupiah kita masih kuat membeli semua barang dalam negeri. Kalau susu bayi impor mahal dan persediaannya menghilang, malah bayi-bayi kita untung menjadi lebih sehat, sebab minum susu ibu, gratis lagi. Buah lengkeng, jambu bol, mangga, duren, nangka kita tidak kalah enak dari anggur, apel, pir. Duh, enaknya sayur lodeh, sayur asam, empal, pete bakar, itu saja tidak kalah dari stik atau hamburger, pizza. Pengusaha, petani kita juga banyak diuntungkan.  Kalau harga beras, harga gula, harga minyak, cabai naik sedikit, mengapa resah? Andaikan tidak dinaikkan pun saya rela membayar lebih. Apa kita tidak senang kalau pak tani senang jika harga padi, tebu, kelapanya naik? Orang lain rela gaji, honornya diturunkan. Ah, jangan mau enak sendiri. 

 Maklum, begitu pilkiran orang “bodoh”, cemooh orang. 

Membaca, mendengar bantuan, sumbangan, pengorbanan rakyat kecil dalam krisis ekonomi yang melanda banyak negara, tanpa suara mesti begini-begitu, sebagai wujud kepedulian mereka dalam suasana prihatin sekarang ini, begitu membesarkan hati, serasa bagaikan sekoci-sekoci kecil yang diam-diam mencoba membawa bantuan, pertolongan kepada kapal besar yang sedang dalam kesulitan.  

Tidak seperti 50 persyaratan bantuan IMF,   bukan persyaratan, “kesepakatan” kata IMF,  bukan, “dijajah, didikte” IMF, bisik seseorang dan saya teringat pendirian Mahathir yang menolak dibantu – ah,  boro-boro dibantu, tetapi dipinjamkan – IMF. 

 Pepatah Belanda berkata, De beste stuurlui staan aan wal. Nakhoda terbaik adanya di daratan. Maklum para nakhoda di daratan tidak bisa salah. Mereka aman, tidak mengemudikan kapal, kok, engga kebasahan, engga cemas terombang-ambing dalam bahaya, dalam amukan taufan ekonomi dan moneter.                                                                                               

Harian Ekonomi Neraca, 24 Januari 1998                   

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers