“Dihukum” Dengan Hadiah Kasur Springbed
“Dihukum” Dengan Hadiah Kasur Springbed
“Wah, kasur spring-bed hadiah anak-anak, engga enak bener,” kata opa Johan. “Wij punya tempat tidur kan untuk kasur biasa, sekarang jadi tinggi pake kasur spring-bed. Kalau mau turun dari tempat tidur, ik rasanya mau ngegelinding jatuh. Nah, begitulah kalau orang terlalu prihatin atau punya kebanyakan uang. Belum ditanya, langsung dibeliin.”
“Eh, anak-anak baik-baik beli kasur spring-bed, buat nyembuhin jij punya asthma. Sekarang jij punya asthma hilang. Ngomel, bukannya terima kasih.” kata istrinya.
“Memang, engga pake kasur baru juga udah hilang, sebab ik sekarang ikut Senam Kesegaran Jasmani. Jij kemanain itu kasur lama yang masih bagus karena belum lama wij pake? Itu kasur malah lebih enak, empuk lagi, engga membal-membal kayak ini kasur.”
“Yah, satu ik kasih orang, satu lagi untuk ngeganti kasur butut pembantu kita.” “Coba ngomong dulu kek, apa ik lebih enak, seneng pake kasur baru ini. Mau nyembuhin asthma, bisa-bisa wij cilaka jatuh dari tempat tidur.”
“Kalau mau aman, gergaji aja wij punya tempat tidur, supaya menjadi pendek,” kata istrinya. “Kasur lama yang bagus, enak ditidurin, dikasih orang. Sekarang tempat tidur bagus digergaji, mau dijelekin. Belum lagi kalau wij nanti mesti beli alat penyedot debu berikut obat pembersihnya untuk ngebersihin itu kasur. Duit lagi. Semuanya gara-gara mendapat kasur baru.
“Baik sih baik, terima kasih banyak. Bukan hadiah barang butut atau barang bekas, kok, yang udah engga dipake lagi, lagi pula bukan seperti nganterin masakan yang wij engga doyan ketimbang apa yang mereka doyan, ha, ha, ha,” opa Johan tertawa menggoda dengan melirik pada istrinya. “Bener, wij dapat hadiah barang baru, tetapi … buntut, atau ekornya engga enak banget.”
Begitu percakapan opa dan oma itu dalam bahasa. gado-gado. Dan saya membatin, mendingan memberikan uangnya. Terserah opa itu mau membelikan spring-bed atau tidak. Kecuali kalau barangnya memang diinginkannya dan diluar kemampuan dompet opa itu.
Ah, apa orang tua begitu bodoh amat, sehingga tidak tahu apa yang paling enak, paling bagus, paling baik bagi diri mereka? Dalam bentuk uang, mereka bisa menjalankan pilihan mereka, merasa bangga akan kemerdekaan mereka, meski mereka mungkin membuat blunder (kebodohan amat besar) ketimbang mengatur-atur mereka sebagai anak kecil dan melukai martabat, harga diri mereka.
Andaikan kita menolong pasien sakit paru-paru – orang kaya sih tidak perlu disumbang -dengan membelikan daging, susu, telor, buah-buahan, khusus baginya, apa enaknya sih?
“Baik sih baik, terima kasih,” si Sakit akan membatin. Ah, sedih benar, kalau ia mesti makan sendiri. Ia tak bisa menelan, melihat anak, istrinya yang juga kekurangan, tidak kebagian rezeki itu. Dalam bentuk uang ia akan lebih leluasa, karena ia yang paling tahu pengeluaran-pengeluaran apa yang paling mendesak bagi diri dan keluarganya.
Januari 1998