“Dihukum” Dengan Empat Sisir Pisang

 “Dihukum” Dengan Empat Sisir Pisang 

Dengan rasa bahagia, Pak Tani,  dari hari ke hari, melihat  pisang ambonnya menjadi masak  di  kebun. Ada lima sisir yang bagus. Ia membawanya keliling, tetapi, oh, tiada yang mau membeli. Maklum, orang-orang kampung banyak yang sudah  mempunyai  pohon buah-buahan sendiri. Ia terpaksa membawanya sampai jauh ke komplek rumah peristirahatan di  Cisarua. Disana pisangnya laris diborong pelancong  Jakarta dan  dengan hati ringan, lega ia  pulang  membawa rezekinya. 

“Kasihan, engga tega. Dari harga Rp. 25.000.-  dia turunin  sampai  Rp. 10.000.–.  Pisangnya   bagus lagi.” kata  bu Lani pada ibu mertuanya. Ia membeli semuanya  tanpa memikir bagaimana memakan pisang sebanyak itu. 

Setibanya kembali di Jakarta, bu Lani berkata pada ibu mertuanya, “Mau berapa, ya?” 

“Paling-paling  dua  aja. Satu  sisir  untuk  kita sendiri, satunya untuk teman baik sekeluarga.”  

“Nih, ambil satu lagi, buat apa kita tiga  sisir.” kata  suami  bu Lani. E-eh, tidak  lama  kemudian, satu  sisir  pisang dibawakan lagi ke  rumah  sang mertua.  Rupanya  bu Lani sendiri  bingung  dengan banyaknya pisang ambon itu. 

Melihat empat sisir pisang ini, opa Johan menggelengkan kepala dan kata pada isterinya: “Maksudnya baik. Tapi baik  macam apa  itu,  kalau sendiri bingung  makan  abis  itu pisang dan bingung mau kasih ama siapa, kenapa  si Lani membeli semuanya? Kok kita yang  dibingungin, dihukum, disiksa dengan hadiah empat sisir pisang segede ini. Satu sisir aja udah lebih dari cukup.  Mesti­nya jij tolak, biar dia sendiri yang  kelabakan, biar kapok, ngerasain makan abis  itu  pi­sang.

”Apa jij mau suruh  ik makan abis sampai sakit perut? Sekarang  jij engga  tega membiarkan itu pisang busuk.  Terpaksa jij kasih tetangga. Tetangga terpaksa mesti ngeba­las ngirim kita. Kasih ke saudara-saudara, ik lagi yang kena mesti naik sepeda nganterin. Kenapa  jij engga kasihan ama tetangga dan ik? “Kalau  mau  baik, biar  baik,  keringetan,  pusing sendiri, dong, jangan orang  lain  dibawa-bawa.” Begitu  kata opa Johan pada istrinya dalam  bahasa Indonesia zaman Belanda.

Diam-diam istrinya  memi­kir-mikir, siapa sebaiknya dikirimi pisang. 

 “Jij  kemanain itu sisa satu sisir pisang?”  tanya opa  Johan.

 “Coba tebak.” kata istrinya berseri-seri. “Ik  anterin  ke rumah ibu tua yang jual nasi kuning  dan lodeh  lontong. Langganan kita, ia menjadi  terheran-heran. Banyak anak-cucunya disana.”  

“Untung,  selamat.”  kata opa Johan  dengan  lega. “Ingat,  jangan main borong kalau ke  Puncak.  Mau bawa enak-enak, tahu-tahu bawa sengsara.” * 

Nah,  kalau  sedikit, yang engga  enak  bisa  jadi enak,  berkat, disyukuri, kalau kebanyakan yang  paling enak saja  bisa  menjadi engga  enak,  atau  ”hukuman”, teringat apa yang dikatakan pak Arif dulu. Kecuali kalau kebanyakan uang (atau apa yang  bisa dijadikan  uang)  tentunya. Makin  banyak,  asyik, kata pak konglomerat.                                      

Agustus 1997 

* Kini di bulan Nopember 2007, setelah sepuluh tahun yang lalu, justru istri Pak Johan kewalahan karena memborong pisang di Cipanas yang engga mau habis-habis dimakan, bingung mau dikasih siapa.

One Comment (+add yours?)

  1. isa
    Dec 25, 2009 @ 15:10:49

    hurufnya jelek jadi bikin pusing

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers