Berkenalan Dengan Si Mickey
Berkenalan Dengan Si Mickey
Sudah beberapa malam, si Mickey mengganggu tidur kami. Tak tahan lagi karena nakalnya keterlaluan, semua pintu dan jendela ditutup rapat, agar ia tidak bisa kabur. Bagai pemburu, kami, suami, istri merangkak, mengintai. Bersenjatakan sapu lidi ia ditakut-takuti, diusir dari kolong tempat tidur, dari bawah meja tulis, dari belakaang lemari pakaian. Dengan penutup makanan plastik tembus pandang, saya melompat untuk menerkam dan menangkapnya entah di udara, di dinding atau dilantai hidup-hidup. Kalau pun ia tidak bisa ditangkap, sekurang-kurangnya ia harus merasa jera diburu begitu, hingga tidak pernah berani datang lagi.
Setelah berburu selama dua jam di tengah malam, mengeluarkan banyak keringat dan mendapat sebuah benjolan di kepala, akhirnya si Mickey tertangkap, karena ia bersembunyi di dalam dus shuttle-cock kosong. Alangkah manisnya ia dalam bingkai bulat dus itu.
Pasangan saya melirik dan menertawakan ketakutan saya. Ia yang akan melakukan eksekusinya (hukuman mati), membawa dus itu ke luar dan tanpa sidang, tanpa basa-basi mendorong dus dengan si Mickey ke dalam drum air hujan yang ada di kebun. Hu, betapa basah dan dinginnya air itu, apa lagi setelah panas dikejar-kejar begitu. Si Mickey berenang-renang dan mencoba menaiki dinding drum, tetapi sia-sia saja. Gerakannya makin melemah, napasnya tersengal-sengal. Ia makin tenggelam dalam keputusasaan.
Tak tega melihatnya dihukum demikian kejam, saya melemparkan sepotong kayu, bagai sekoci penyelamat, lalu mendatangkan “badai” dahsyat dalam drum itu. Setelah sekocinya beberapa kali terbalik, ia dengan susah payah, berhasil menaikinya kembali. Ia sama sekali tidak melompat pergi lagi ketika tangan saya mendekatinya. Masih belum puas, lagi-lagi saya menggodanya dengan berkali-kali menyoroti lampu senter dalam gelap gulita mengarah kepadanya. Disitulah si Mickey duduk dengan mata basah menangisi nasibnya, bagai korban kecelakaan kapal Titanic, sendirian di samudera.
Saya pun lalu kembali ketempat tidur. Alangkah hangatnya tempat tidur, ketimbang diceburkan di drum. Saya membayangkan bagaimana rasanya, jika berada di sekoci di tengah samudera dalam gelap gulita, tanpa ada secuil harapan pun. Dalam khayal, saya melihat Mickey di “samudera“ ah, bukan, di “neraka” ketakutan, duka dan derita. menjalani hukumannya. Untung, malam masih panjang. Ia masih ada banyak waktu untuk merenungi dosa-dosanya. Esok pagi akan saya bebaskan dan saya pun puas tertidur.
Eh-eh, ketika melihat ke dalam drum itu keesokan harinya, saya sedih dan kecewa. Ternyata si Mickey yang sudah menjadi seperti kawan, bukan mati, melainkan sudah “terbang” menghilang. Lompatannya tentu cukup tinggi. Entah setelah berapa kali ia baru berhasil melompat keluar untuk mendapat kebebasannya kembali.
Namun saya juga bahagia, karena kini tahu betapa bahagia si Mickey sekarang ini. Betapa indah hidup baginya setelah menghadapi ancaman maut, yang begitu menakutkan. Kembali ke sarangnya, istri, anak-anak tentu menyambut, merayakannya karena bersyukur, bahagia ia telah bebas kembali.
Pebruari 1998
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed
