“Mendolarkan” Bahasa Inggris?
June 26, 2008
chew
“Mendolarkan” Bahasa Inggris?
“Kok, menteri-menteri kita susah-susah menjawab pertanyaan wartawan Barat dalam bahasa Inggris. Keahlian menteri kita kan di bidang ekonomi, keuangan, perbankan, bukan bahasa Inggris. Boro-boro menanya, kadang-kadang pertanyaan mereka terasa, terdengar seperti sedang menginterogasi, menguji, menyidang,” kata si upik ketika menonton tayangan langsung wawancara dengan pers asing di Bina Graha, hasil perundingan kesepakatan ke 3 dengan IMF.
”Bangga dong berbahasa Indonesia. Biar mereka susah-susah belajar dulu bahasa Indonesia. Mengapa mesti merasa ‘minder’, kampungan kalau kita tidak bersedia, tidak bisa/tidak fasih berbahasa Inggris? Biar merekalah yang tergagap-gagap, susah-susah dan dengan sopan mengajukan pertanyaan dalam bahasa Indonesia. Apa kita juga mau mendewa-dewakan, ‘mendolarkan’ bahasa Inggris? Belajar Inggris dulu demi melayani mereka?”
“Bukan”, kata si buyung, “kita sedang memasyaratkan bahasa Inggris dan mendolarkan, eh … meng-Inggriskan Indonesia. Ha, ha, ha.”
Dan saya membatin, Francoise Mitterand, Helmut Kohl, Hashimoto, Yeltsin, Li Peng, yang tentu pandai berbahasa Inggris, lebih bangga menggunakan bahasa negara mereka sendiri, ketimbang bahasa Inggris. Apa bahasa Inggris juga dijadikan bahasa pengantar di bidang pendidikan mereka?
Kita kini mengizinkan sekolah dan perguruan tinggi menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Saya rasa ada banyak ahli ilmu pengetahuan mereka yang hebat-hebat, tanpa susah-susah mesti belajar bahasa Inggris dulu. Lagi pula para ilmuan, seniman dilahirkan di macam-macam negara, bukan di negara-negara yang berbahasa Inggris saja.
“Maka cepat-cepatlah menerjemahkan karya-karya berharga, baik dalam bahasa asing kedalam bahasa Indonesia demi pengetahuan, kepentingan kita sendiri Maka dunia akan ramai-ramai belajar bahasa Indonesia,ha, ha, ha.” Si upik nyeletuk.
Dalam konferensi PBB para utusan boleh saja berpidato dalam bahasa negara masing-masing.Itu tidak memalukan.
“Ah, masakan kita perlu merakyatkan Indonesia dan meng-Indonesiakan rakyat? Kita sudah menjadi orang asing di negeri sendiri, dong.” si upik berkata.
Bisnis Indonesia 2 Mei 1998
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
Entry Filed under: Bahasa Indonesia
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed
